Jumat, 17 juli 2026, Program Magister Sains dan Doktor, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Badan Reintegrasi Aceh (BRA) menyelenggarakan seminar bertajuk “Peacebuilding on Post-Conflict Aceh: Sustaining Peace After Civil Conflict: Achievements, Implications, and Challenges”. Kegiatan ini berlangsung secara luring pada pukul 09.30–12.30 WIB di ruangan Lippo, Lantai 2 Gedung Magister Sains dan Doktor FEB UGM. Seminar ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Muhammad Ryan Sanjaya, Ph.D. (Dosen, Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM), Dr. (Cand.) Jamaluddin, S.H,.M.Kn. (Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) 2026), dan Arif Arindita, Ph.D. (Postdoctoral Research Fellow, University of Milano-Bicocca, Italy), dengan M. Fawdy Renardi Wahyu, M.Sc. (Dosen, Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM) sebagai moderator.
Seminar ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pembangunan perdamaian di Aceh pascakonflik, mulai dari capaian yang telah diraih, tantangan yang masih dihadapi, hingga implikasinya terhadap pembangunan sosial dan ekonomi. Melalui perspektif akademik maupun praktis, peserta diajak memahami bahwa menjaga perdamaian merupakan proses jangka panjang yang memerlukan kolaborasi berbagai pihak.
Dalam paparannya, Dr. (Cand.) Jamaluddin menjelaskan perjalanan panjang konflik Aceh yang akhirnya mencapai titik damai melalui penandatanganan MoU Helsinki pada tahun 2005 setelah bencana tsunami 2004. Beliau menekankan bahwa proses perdamaian tidak hanya mengakhiri konflik bersenjata, tetapi juga menjadi fondasi bagi pembangunan yang tetap berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Meski demikian, implementasi beberapa poin dalam MoU Helsinki, khususnya terkait reintegrasi mantan kombatan, penyediaan lapangan kerja, serta pemanfaatan Dana Otonomi Khusus, masih menghadapi berbagai tantangan.
Salah satu isu utama yang dibahas adalah pentingnya pendidikan sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga perdamaian yang berkelanjutan. Menurut narasumber, masyarakat yang terdampak konflik, khususnya anak-anak mantan kombatan dan korban konflik, perlu memperoleh akses pendidikan yang lebih luas melalui berbagai kebijakan afirmatif. Pendidikan dinilai mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat stabilitas sosial dan pembangunan di Aceh.
Selain itu, seminar ini juga memaparkan hasil penelitian awal mengenai dampak perdamaian terhadap pendidikan dan pemberdayaan perempuan di Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perdamaian memberikan dampak positif terhadap peningkatan capaian pendidikan. Peningkatan pendidikan perempuan juga berkaitan dengan meningkatnya otonomi dalam pengambilan keputusan, penundaan usia pernikahan, meningkatnya penggunaan alat kontrasepsi, serta kecenderungan memiliki jumlah anak yang lebih sedikit. Temuan tersebut menunjukkan bahwa manfaat perdamaian tidak hanya dirasakan pada aspek keamanan, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Berbagai isu strategis mengemuka, mulai dari usulan pemberian kuota pendidikan bagi anak mantan kombatan, evaluasi implementasi kebijakan otonomi khusus Aceh, hingga rendahnya partisipasi ekonomi perempuan pascakonflik. Diskusi juga menyoroti pentingnya melibatkan perempuan korban konflik dalam proses rekonsiliasi serta perlunya komitmen bersama untuk memastikan perdamaian dapat terus terjaga secara berkelanjutan.
Melalui seminar ini, peserta memperoleh wawasan yang lebih mendalam mengenai dinamika pembangunan perdamaian di Aceh serta berbagai tantangan yang masih perlu dihadapi. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen Program Magister Sains dan Doktor FEB UGM dalam menghadirkan forum akademik yang mendorong dialog kritis, kolaborasi lintas institusi, dan pengembangan kebijakan berbasis riset untuk mendukung pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.